Analogi sederhana, terlihat fana tetapi nyata
Kata mereka, "enak ya jadi anak sulung, selalu dipercaya orang tua."
Kata mereka, "enak ya jadi anak tengah, hidupnya bebas"
Kata mereka, "enak ya jadi anak bungsu, pasti disayang."
Mengapa mereka? Bukan diriku?
Aku...
Mengapa senyummu terus merekah? Bukankah bebanmu begitu berat?
Lantas harus apakah aku? Meratapi dan berkeluh? Menunjukan sikap lemah ku? Sama saja memberi mereka makanan yang akan dibuang.
Hidup tanpa dirinya bukanlah pilihan dan keinginanku! Nyatanya aku masih buta arah untuk kembali kejalan itu.
Kesedihan yang terlampaui hingga tiada arah, akankah hatiku merintih sepi?
Merajut sejuta harapan yang terlampaui.
Lagi lagi menciptakan rindu menggebu menuntut temu.
Firasat yang ditandai gejolak hati, menepis akal akan hakikat rindu. Mampukah aku?
Teruntuk sobat perahu, yang tak pernah letih menyusuri samudra nan biru. Diiringi deburan ombak badai, kan kau taklukan tanpa kelabu.
Kalaupun Nestapa bertamu, cukup apatisi. Terus langkahkan kakimu, meskipun senja berlalu dan pergi.
Lengkara hati nestapa, Caminando hacia adelante...
M¡NĂ©

No comments:
Post a Comment